yaNg hlAng…..
May 11th, 2008 by frtrik1011aKu beLum TaHu menGapa?
dAn Aku teLah leLah menAnYakanNya…
sepErti tuBuh yanG lelAh
menCari penyaNgga hiDupnya
yang hiLang……..
aKu beLum TaHu menGapa?
dAn Aku teLah leLah menAnYakanNya…
sepErti tuBuh yanG lelAh
menCari penyaNgga hiDupnya
yang hiLang……..
Tuhan yang mengasihi kami,
kami bersyukur kepadaMu untuk segala yang telah Kau sediakan
dan Kau kerjakan atas hidup kami.
Satu hal lagi yang ingin kami syukuri hari ini
adalah hidup Tri yang 10 November yang lalu memperingati hari kelahirannya.
Engkau telah mengenal hatinya dengan baik.
Engkau tahu apa yag ia butuhkan,
apa yang membuatnya tertawa dan bahagia,
juga apa yang sedang digelisahkan oleh hatinya.
Bantulah dia, agar hidup sungguh menjadi peristiwa syukur bagi dirinya.
Restuilah pergulatan hidupnya.
sebab, bagi setiap manusia, cinta dan kebahagiaan -meskipun selalu Kau sediakan-
tidak selalu hadir begitu saja.
seringkali, ia hadir hanya setelah pergulatan
dan pertanggungjawaban hidup yang tidak selalu menyenangkan.
Kami berdoa untuk kebahagiaannya,
untuk kebahagiaan orang-orang yang ia cinta :Ibu bapak, kakak, dan adiknya,
juga teman-temannya.
Kami juga berdoa bagi diri kami
sebagai mahluk pribadi dihadapanMu,
juga sebagai sekelompok anak muda yang menggulati panggilan sebagai calon imam.
Semoga Engkau senantiasa memberi terang
dan tuntunan agar kami mengerti bagaimana mesti menjawab keterpanggilan kami.
Doa ini kami sampaikan dengan perantaraan Kristus
yang mengasihi Bapa lebih dari segalanya,
seraya mencintai manusia dengan seluruh hidupNya,
bersama Roh Kudus dan Bunda Maria.
Konon, sejatinya manusia adalah ciptaan yang baik adanya. Dari tulang rusuk sebelah kiri manusia pria, diciptakannya wanita sebagai pendamping hidupnya. Merekalah yang kita kenal sebagai manusia pertama. Dan merekalah yang mengawali keberadaannya sebagai wanita di dunia.
Inilah kisah anak manusia turunan Adam dan Hawa. Sayup redup tatapan matanya, tak seperti biasanya. Sikap diamnya menyisakan beribu tanya. Seperti redup cahaya, remang-remang adalah sisanya. Seolah layunya bunga sewaktu senja menyisakan kenangan atas warna dan aromanya.
Inilah kisah anak manusia turunan Adam dan Hawa. Hatinya riuh, seperti malam pertarungan yang menyisakan kesedihan, dan sungguh ironi, suara-suara jangkerik, binatang malam itu pun, tak lagi susah untuk di dengar. Ya, hatinya riuh dalam sendu dan bisu.
Ia telah lama menanti kapan senja tiba. Seperti manusia pada umumnya, menunggu adalah saat-saat paling tidak disukainya. Bahwa senja akan membawa kekasihnya kembali ke pelukannya adalah harapan terbesarnya. Ya, hatinya riuh menanti dirinya. Kekasih yang telah menyematkan cinta dalam relung-relung hatinya, yang masih menyisakan luka atas cinta lama.
Saat-saat senja adalah waktu istimewa bagi dirinya. Meski terkadang membosankan, tetapi toh tak membuatnya jera. Ia merasa, kesetiaan adalah harta yang berharga. Dan ia percaya itu semua. Bahkan ia menciptakan trik-trik sederhana, sekedar untuk menepiskan kebosanan dirinya. Benar…tak lama kemudian kebosanan itu tiba. Sontak ia berdiri, dan menghembuskannya perlahan. Sembari berfantasi bahwa akan tibalah keindahan yang ia nanti-nantikan. Hembusan itu adalah hembusan kekesalan, agar tak terus bercengkrama dalam hatinya yang pernah luka. Ia masih mencoba untuk setia pada cinta. Ia masih menanti bersama senja yang perlahan tiba.
Kini ia kembali duduk di beranda, tempat kesukaannya. Dibalik kesetiaan itu, ia sematkan secercah harapan bercampur rindu. Ia berharap, Ia lah orang pertama yang akan menyambut kehadirannya. Memeluk, mencium dan meneteskan air mata kebahagiaan yang telah berlinangan sepanjang senja penantian. Bersama guliran air mata yang berjatuhan membasahi kemeja biru muda. Ia menitipkan kenangan serta kesedihannya menanti kekasihnya sepanjang senja. Ini cara terbaik yang pernah ia lakukan, Karena ia sendiri tak pernah tahu kepada siapa bercerita, selain kepada senja.
Saat air matanya menetes bergantian, ia melihat kegetiran. Setelah menanti kekasihnya telah pergi, dan tak segera kembali. Kenangan itu-bersama kekasihnya- telah lama ia jaga. Tak lupa pula, Ia taburkan hiasan warna-warna, supaya tetap berkesan dihatinya. Sekalipun tak pernah terlintas untuk menyisihkan dia dari sudut hatinya. Karna sesungguhnya, sang kekasih telah mengisi hatinya…
"aku akan datang bersama matahari yang kembali menuju pusara Bersama senja akan kubawakan cinta Dan akan kuberikan hatiku sebagai kado istimewa Tunggulah aku, saat hari beranjak senja….."
Bisikan itu keras terdengar setiap senja tiba. Seakan menarik-narik dirinya untuk kembali menuju beranda, dan memerintahkannya duduk di sana. Begitulah, kata-kata itu mengikatnya menjadi semacam cinta. Apakah itu nyata, atau pelarian semata tak sedemikian dikenal olehnya. Namun yang pasti, cinta telah membodohi dirinya dan ia mengatakan, kesetiaan adalah yang utama. Kendati tak pernah diketahuinya kapan saat penantian itu akan berujung bahagia. Ya, ia tak pernah tahu jawabannya.
Hampir setiap senja, matanya berkaca-kaca penuh air mata. Airnya menetes bergantian bak hujan saat musim rendeng tiba. Air itu terus membasahi pipinya yang semakin kusam di makan usia. Dan Ia tak sadar, penantian telah menguras masa mudanya, berlalu tanpa makna.
Tengah malam
KeCemAsan keRap MembAyanGi
TErMasuK MalaM ini
Lagi-laGi….
sAat ku seNdiRi
Ya Tuhan beriLah Aku MimpI maLam ini pAda SaAt keseNdiriAn meMbuatKu sePi AgAr EsOk Pagi dApat kusAmbUt MenTari yAng piJarKan SerI
o
Tak usah berjanji
Daripada berjanji tidak menepati
Siapapun tak suka dusta
Daripada dusta lebih baik luka
Hindarkanlah lidah yang bersilat
Karena akan mengantarkan diri kepada dosa
Mulut siapa yang berdusta
Tak bakal dipercaya
Karena semua orang tak suka dusta
Kendati mereka sendiri lekat dari dusta
(inspirasi dari Pengkotbah)
Temukan makna sebelum mati
Temukan makna sebelum mati
sekali lagi ..
Temukanlah makna sebelum mati
Jerih payah ada,
karunia selalu ada
untuk apa menunggu
tuk menemukan makna dalam setiap lembar kehidupan
hingga tiba saatnya, kematian hanguskan semua
Menjaring angin 2
Segala sesuatu menyusahkan
Segala sesuatu menyebalkan
Segala sesuatu menyulitkan
Dan segala sesuatu adalah kesia-siaan
Untuk apa mencoba
Kalau toh lenyap seperti asap
Tapi apa yang mesti dilakukan
Sebelum segala sesuatu lenyap seperti asap?
Sebelum kematian tak lagi terelakan dari kehidupan?
(inspirasi dari Pengkotbah)
Adalah kesia-siaan
Usaha menjaring angin
Apabila kematian tak lagi terelakkan
Aku punya harta, kuasa, dan cinta
Aku punya mimpi yang membuatku mabuk tak terkira
Aku punya wanita yang sangat mencinta
Aku punya segalanya,
Pun saat miskin….
Aku bersusah-susah mencari sesuap nasi,
Bersusah-susah mencari arti,
Bersusah-susah menemukan hati yang tak pernah terpatri
cukup menjadi "memory"
Untuk apa kulakukan
Kalau ujung-ujungnya mati……..
Semua usaha adalah menjaring angin
Percuma apa yang kubuat
Bila kematian tak lagi terelakkan
Semua lenyap seperti asap
Tak tersisa sedikitpun
(ispirasi dari pengkotbah) Kentungan, 16 April 2007